Keanekaragaman dan Sebaran Mikroba Endofit Indigenous Pada Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril)



Author(s): Erfan Dani Septia, Fitra Parlindo
DOI: 10.25047/agriprima.v3i1.159

Abstrak


Permintaan yang tinggi terhadap komoditas Kedelai seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat pada produk-produk olahannya. Kenyataan tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas kedelai dalam negeri. Riniarsi (2016) melaporkan bahwa produktivitas kedelai tahun 2016 bahkan mengalami penurunan sebesar 3.95% dibandingkan tahun sebelumnya.  Faktor yang menyebabkan penurunan produksi kedelai salah satunya karena penyakit yang disebabkan oleh virus tanaman. Seiring dengan tren pengurangan bahan kimia sintetis pada praktik budidaya tanaman, aplikasi mikroba endofit indigenous menjadi solusi alternatif dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh virus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman mikroba endofit indigenous pada berbagai bagian jaringan tanaman kedelai dan menguji virulensinya secara in vitro.

Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi. Hasil eksplorasi cendawan endofit indigenous berjumlah 11 isolat dan bakteri berjumlah 3 isolat. Cendawan endofit indigenous berhasil diisolasi dari seluruh jaringan tanaman, kecuali polong. Keragaman cendawan endofit indigenous tertinggi terdapat pada jaringan akar dan batang, yaitu masing-masing berjumlah 4 isolat. Identitas cendawan endofit indigenous yang berhasil diidentifikasi antara lain adalah Fusarium sp., Verticilllum sp., Alternaria sp., Aspergillus sp., dan Penicillium sp. Adapun 6 isolat lainnya tidak dapat terindentifikasi. Bakteri endofit indigenous hanya terisolasi dari jaringan polong, akar, dan tanah. Seluruh bakteri merupakan golongan bakteri Gram negatif. Berdasarkan hasil Uji Hipovirulensi, terhadap 7 isolat cendawan endofit indigenous yang masuk dalam kategori hipovirulen dan 4 isolat lainnya bersifat virulen. Sedangkan semua isolat bakteri endofit indigenous yang diuji menunjukkan kategori virulen.


Kata Kunci


Endofit; Kedelai; Mikroba

Download Teks Lengkap:

Referensi


Agusta, A. (2009). Biologi dan Kimia Jamur Endofit, Bandung: Penerbit Institut Teknologi Bandung.

Ahmad, R.Z. (2013). Kapang Paecilomyces Lilacinus Dan Verticillium Chlamydosporium Sebagai Pengendali Hayati Fasciolosis. Wartazoa. 23 (3), 135-141.

Ata, S.H., Papuangan, N., & Bahtiar. (2016). Identifikasi Cendawan Patogen pada Tanaman Tomat (Solanum lycoperscum L.). Pendidikan Biologi, Universitas Khairun Ternate.

Barnett, H.L., dan Hunter, B.B. (1998). Illustrated Genera of Imperfect Fungi, Fourth Edition. Minnesota (USA): APS Press.

Berg, G. (2009). Plant–Microbe Interactions Promoting Plant Growth and Health: Perspectives for Controlled Use of Microorganisms in Agriculture. Applied Microbiology and Biotechnology 84: 11-18.

Chaelani, S.R. (2011). Metodologi Penelitian Penyakit Tumbuhan, Malang: Universitas Brawijaya Press.

Damayanti, I. (2010). Seleksi Dan Karakterisasi Bakteri Endofit Untuk Menekan Kejadian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Pada Tanaman Tomat. Skripsi, Fakultas Pertanian, Bogor: IPB.

El-Maghraby, O.M.O., Soltan, S.M., Rehab, M., Mohammed, R.M, & Mohammed, M.M. (2010). Endophytic Fungi of Three Leguminous Plant Roots In Egypt. Basic and Applied Mycology. 4, 59-68.

Hardaningsih, S. (2012). Eudarluca caricis, Mikoparasit yang Berpotensi Menekan Pertumbuhan Jamur Karat Pada Tanaman Kacang-Kacangan. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.

Hasanah, U. (2017). Potensi Fungi Endofit Fusarium sp. dan Mucor sp. Sebagai Agen Antagonis Terhadap Fungi Patogen Penyebab Busuk Batang Tanaman Buah Naga (Hylocereus costaricensis), Skripsi, Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim.

Irawati, A.F.C., Mutaqin K.H., Suhartono, M.T., Sastro, Y.S., Sulastri, & Widodo. (2017). Eksplorasi dan Pengaruh Cendawan Endofit yang Berasal dari Akar Tanaman Cabai Terhadap Pertumbuhan Benih Cabai Merah. Jurnal Hortikultura. 27 (1), 105-112.

Istifadah, N., dan Sari, I.P. (2017). Efek Jamur Endofit Asal Daun dan Akar Kacang Tanah terhadap Pertumbuhan dan Penghambatan Patogen Inangnya. Mikologi Indonesia. 1 (2), 61-69.

Kartika, A. (2016). Aplikasi Bakteri Endofit dan Pupuk Organik Cair Terhadap Perkecambahan, Pertumbuhan, dan Ketahanan Semai Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), Skripsi, Fakultas Pertanian, Bogor: IPB.

Khairi, M. (2012). Pengaruh Cendawan Endofit Terhadap Hama dan Pertumbuhan Tanaman Padi di Lapangan, Skripsi, Fakultas Pertanian, Bogor: IPB.

Kusnadi. (2012). Common Text Mikrobiologi, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Novianti, R. (2014). Kemampuan Bakteri Endofit Penghasil Asam Indol Asetat dan Pengarauhyna Terhadap Serangan Virus Gemini pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.), Skripsi, Fakultas MIPA, Bogor: IPB.

Nurhayati. (2010). Senarai Istilah-Istilah Mikologi, Palembang: UNSRI Press.

Purwantisari, S., dan Hastuti, R.B. (2009). Isolasi dan Identifikasi Jamur Indigenous Rhizosfer Tanaman Kentang dari Lahan Pertanian Kentang Organik di Desa Pakis, Magelang. Bioma. 11 (2), 45-53.

Riniarsi, D. (2016). Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Kedelai. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian.

Safitri, D.A. (2017). Pengujian Antagonisme Bakteri Endofit Terhadap Patogen Penting Tanaman Nanas (Ananas comosus L.), Skripsi, Fakultas Pertanian, Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Sanjaya, Y., Nurhaeni, H., & Halima, M. (2010). Isolasi, Identifikasi, dan Karakterisasi Jamur Entomopatogen Dari Larva Spodoptera Litura (Fabricius). Bionatura. 12 (3), 136-141.

Saputra, M. (2016). Aplikasi Bakteri Endofit Dengan Metode Perendaman Benih, Penyiraman Pada Tanah, Dan Pencelupan Akar Terhadap Meloidogyne spp. Pada Tanaman Tomat, Skripsi, Fakultas Pertanian, Bogor: IPB.

Sastrahidayat, I.R. (2011). Fitopatologi (Ilmu Penyakit Tumbuhan), Malang: UB Press.

Sholikhin, I. (2014). Keefektifan Bakteri Endofit Sebagai Agens Hayati Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas Oryzae Pv. Oryzae) Pada Padi, Skripsi, Fakultas Pertanian, Bogor: IPB.

Sneh B.E.,Yamoah, & A. Stewart. (2004). Hypovirulent Rhizoctonia spp. isolates from New Zeland Soils Protected Radish Seedlings Against damping-off caused by Rhizoctonia solani. New Zealand Plant Protection. 57, 54-58.

Supriyanto, Priyatmojo, A., & Arwiyanto, T. (2009). Penapisan Pgpf Untuk Pengendalian Penyakit Busuk Lunak Lidah Buaya (Aloe vera) di Tanah Gambut. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 15 (2), 71-82.

Trizelia, Winarto, &Tanjung, A. (2017). Keanekaragaman Jenis Cendawan Endofit pada Tanaman Gandum (Triticum aestivum) yang Berpotensi sebagai Bioinsektisida. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia. 3 (3), 433-437.

Waruwu, A.A.S., Soekarno, B.P.W., & Munif, A. (2016). Metabolit Cendawan Endofit Tanaman Padi sebagai Alternatif Pengendalian Cendawan Patogen Terbawa Benih Padi. Jurnal Fitopatologi Indonesia. 12 (2), 53-61.

Worosuryani, C., Priyatmojo, A., & Wibowo, A. (2006). Uji Kemampuan Jamur Tanah yang diisolasi dari lahan pasir sebagai PGPF. Jurnal Agrosain. 19(2), 179-191.

Yulianti, T. (2012). Menggali Potensi Endofit untuk Meningkatkan Kesehatan Tanaman Tebu Mendukung Peningkatan Produksi Gula. Jurnal Perspektif. 11 (2), 111-122.