Penampilan Beberapa Galur Kedelai Pada Cekaman Kekeringan



Author(s): FNU Suyamto
DOI: 10.25047/agriprima.v2i1.70

Abstrak


Kekeringan merupakan faktor pembatas yang menyebabkan penurunan produktivitas hingga 55%. Salah satu penyebab rendahnya produksi kedelai di Indonesia adalah penanaman kedelai dilakukan di lahan yang ketersediaan airnya terbatas. Seleksi yang digunakan untuk mendapatkan varietas kedelai yang tahan terhadap kekeringan serta memiliki produksi yang tinggi yaitu dengan karakterisasi hasil biji dan indeks toleransi cekaman (ITC). Sebanyak 30 galur kedelai dievaluasi di dua lingkungan tumbuh yaitu diberi perlakuan pengairan optimal dengan 6 kali pengairan setiap 15 hari sekali dan pengairan 3 kali setiap 15 hari sekali (cekaman kekeringan). Penelitian lapang menggunakan rancangan petak terpisah diulang dua kali, dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm dengan dua tanaman per-rumpun. Tiap galur ditanam 4 baris dengan panjang baris 4,5 m. Tanaman di pupuk dengan pupuk dasar sebanyak 50 kg Urea, 100 kg SP.36 dan 75 kg KCl per hektar yang diberikan pada saat tanam. Penelitian dilaksanakan di KP. Genteng dan KP. Muneng pada bulan Juli 2015. Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang nyata antar lokasi (Genteng dan Muneng), dimana hasil kedelai di Genteng lebih baik dari pada di Muneng. Demikian juga dengan lingkungan tumbuh menunjukkan perbedaan yang nyata dimana cekaman kekeringan selama fase pengisian polong/biji pada kedelai dapat menurunkan hasil sebesar 26% dibanding dengan hasil yang mendapat pengairan optimal. Tidak ada pengaruh interaksi antara lokasi dan perlakuan pengairan terhadap hasil. Terdapat 6 galur yang memiliki potensi hasil dan nilai indeks toleransi cekaman lebih besar dari pada varietas Wilis yaitu KP/2805-1, DV/2984-2, DV/2984-3, KP/3072-2, MLG-2805 dan varietas Tidar dengan potensi hasil berturut-turut 1.097, 1.074, 1.137, 1.107, 1.176 dan 1.111 t/ha sedangkan varietas Wilis 1.053 t/ha. Tiga diantaranya yaitu KP/2805-1, DV/2984-3 dan KP/3072-2 memiliki ukuran biji lebih besar dan umur berbunga lebih panjang dibanding Wilis, Tidar dan MLG-2805.

Kata Kunci


Galur Kedelai; Indek Toleransi Cekaman; Kekeringan

Download Teks Lengkap:

Referensi


Baihaki, A., & Wicaksana, N. (2005). Interaksi genotipe x lingkungan, adaptabilitas, dan stabilitas, hasil dalam pengembangan tanaman varietas unggul di Indonesia. Zuriat, Jurnal Pemuliaan Indonesia, 16(1), 1–8.

Desclaux, D., Huynh, T.-T., & Roumet, P. (2000). Identification of Soybean Plant Characteristics That Indicate the Timing of Drought Stress. Crop Science, 40(3), 716.

Dogan, E., Kirnak, H., & Copur, O. (2007). Deficit irrigations during soybean reproductive stages and CROPGRO-soybean simulations under semi-arid climatic conditions. Field Crops Research, 103(2), 154–159.

Fernandez, G. C. J. (1993). Effective selection criteria for assessing plant stress tolerance. In Adaptation of food crops to temperature and water stress (pp. 257–270). Taiwan: proceedings of an international symposium.

Hamim, Ashri, K., Miftahudin, & Triadiati. (2009). Analisis Status Air, Prolin Dan Aktivitas Enzim Antioksidan Beberapa Kedelai Toleran Dan Peka Kekeringan Serta Kedelai Liar. Agrivita, Journal of Agricultural Science, 30(3).

Hura, T., Grzesiak, S., Hura, K., Thiemt, E., Tokarz, K., & Wedzony, M. (2007). Physiological and Biochemical Tools Useful in Drought-Tolerance Detection in Genotypes of Winter Triticale: Accumulation of Ferulic Acid Correlates with Drought Tolerance. Annals of Botany, 100(4), 767–775.

Liu, F., Jensen, C. R., & Andersen, M. N. (2004). Drought stress effect on carbohydrate concentration in soybean leaves and pods during early reproductive development: its implication in altering pod set. Field Crops Research, 86(1), 1–13.

Soegijatni, S., & Suyamto. (2000). Uji Daya Hasil Pendahuluan Kedelai Toleran Kekeringan. Malang: Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian.

Subandi, A. H., & Kuntyastuti, H. (2007). Areal pertanaman dan sistem produksi kedelai di Indonesia. In Kedelai: Teknik produksi dan pengembangan (pp. 104–129). Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.

Suhartina. (2007). Evaluasi Galur Harapan Kedelai Hitam Toleran Kekeringan dan Berdaya Hasil Tinggi. In Peningkatan produksi kacang-kacangan dan umbi-umbian mendukung kemandirian pangan (pp. 153–161). Malang: Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi - umbian.

Suhartina, H., S. K., & Tohari. (2002). Toleransi Beberapa Galur F7 Kedelai terhadap Cekaman Kekeringan pada Fase Generatif (pp. 335–438). Malang: Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi - umbian.

Sumarno & Manshuri, A. G. (2007). Persyaratan Tumbuh dan Wilayah Produksi Kedelai di Indonesia. In Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan Wilayah Produksi Kedelai di Indonesia (pp. 74–103). Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.

Van Doren Jr, D. M., & Reicosky, D. C. (1987). Tillage and irrigation. In J. R. Wilcox (Ed.), Soybeans: improvement, production and uses (pp. 391–428). Madison, Wisconsin, EE.UU: American Society of Agronomy.